RSS

REVOLUSI HIJAU DAN PERKEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN

06 Apr

REVOLUSI HIJAU DAN PERKEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN

 1. Revolusi Hijau

Selama periode orde baru, industri pertanian merupakan dua sektor prioritas. Untuk mendukung pembangunan pertanian, pemerintah pada waktu itu melaksanakan modernisasi atau intensifikasi, dikenal dengan sebutan “Revolusi Hijau”, yang di Indonesia diterjemahkan menjadi Bimbingan Massal (Bimas) sebagai strateginya.

Strategi ini, juga intensifikasi pertanian, ditandai dengan pemakaian input-input pertanian modern (seperti pupuk buatan pabrik atau nonorganik, insektisida, dan bibit-bibit unggul), teknologi-teknologi baru (termasuk sisitem irigasi teknis), cara pemasaran yang modern, dan proses produksi dengan tingkat mekanisasi yang tinggi.

Strategi ini, yang juga bersandar pada penggunaan benih monokultural, dilaksanakan bersama-sama dengan investasi publik yang masif di perdesaan, termasuk pendidikan, pembangunan jalan raya, serta fasilitas-fasilitas listrik dan telekomunikasi.

Tujuan utama dari strategi ini ada dua, yakni meningkatkan produktivitas di sektor tersebut untuk mencapai swasembada pangan, khususnya beras, dan meningkatkan pendakatan rill per-kapita di sektor itu pada khususnya dan di perdesaan pada umumnya yang selanjutnya bisa mengurangi kemiskinan.

Selain kedua tujuan tersebut, modernisasi di pertanian juga bertujuan untuk mendukung pembangunan industri nasional, terutama industri-industri yang memakai komoditas-komoditas pertanian sebagai bahan baku utama mereka, misalnya industri makanan dan minuman.

Untuk melaksanakan pembangunan pertanian, khususnya program  revolusi hijau tersebut, pemerintah Soeharto mengeluarkan dana yang jumlahnya tidak kecil, yang sebagian didukung oleh bantuan atau pinjaman luar negeri.

Satu hal yang menarik yang menunjukan keseriusan pemerintah orde baru waktu itu membangun sektor pertanian, seperti yang diceritakan oleh Pambudy (2008), adalah keputusan Soeharto untuk membangun pabrik pupuk didalam negeri, walaupun waktu itu tidak disetujui oleh Bank Dunia, lembaga yang sangat berperan dalam membantu pendanaan revolusi hijau di Indonesia.

Keseriusan Soeharto membangun pertanian dapat dilihat juga dari pembangunan jangka panjang (PJP) I (1969-1994) yang menekankan pada pembangunan sektor itu dengan menjaga harga pangan (lahirnya badan logistik nasional atau Bulog), untuk menjamin ketahanan pangan.

Pemerintah waktu itu sangat yakin bahwa ketahanan pangan sebagai prasyarat utama bagi kelangsungan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang (Pambudy, 2008)

2. Perkembangan Sektor Pertanian

1)      Kontribusi PDB

Mungkin sudah merupakan evolusi alamiah seiring dengan proses industrialisasi, dimana pangsa output agregrat (PDB) dari pertanian relatif menurun, sedangkan dari industri manufaktur dan sektor-sektor sekunder lainnya dan sektor tersier meningkat.

Penurunan kontribusi output dari pertanian terhadap pembentukan PDB ini bukan berarti bahwa volume produksi di sektor tersebut berkurang (pertumbuhan negatif) selama periode tersebut, tetapi laju pertumbuhan output-nya lebih lambat dibandingkan dengan laju pertumbuhan output di sektor-sektor lainnya.

Walaupun dalam tahun-tahun tertentu laju pertumbuhan output pertanian bisa sama atau lebih tinggi daripada sektor-sektor nonpertanian, tetapi pada umumnya output pertanian tumbuh relatif lebih rendah atau cenderung menurun dalam periode jangka panjang.

2)      Pertumbuhan Output dan Produktivitas

Disisi output, kebiajakn revolusi hijau menekankan pada pertumbuhan output atau maksimalisasi dari faktor-faktor produksi utama, yakni tenaga kerja, lahan, dan modal. Untuk mencapai tujuan ini, maka di Indonesia pada era tersebut diperkenalkan pola-pola penanaman yang padat karya, tetapi produktiv dengan menggunakan teknologi-teknologi yang menghasilkan panen tinggi, terutama di wilayah-wilayah di mana lahan merupakan sumber yang terbatas relatif terhadap tenaga kerja, seperti di Pulau Jawa.

Jadi, tidak ada trade-off antara pencapaian pertumbuhan output dan penciptaan kesempatan kerja di pertanian. Dalam kata lain, di sektor pertanian pertumbuhan output terjadi bersamaan dengan penigkatan kesempatan kerja.

Yang lebih menarik untuk dilihat dalam mengevaluasi hasil dari revolusi hijau dari perspektif output adalah tingkat produktivitas, per pekerja atau per hektar lahan. Dasar pemikirannya adalah bahwa walaupun pertumbuahan ouput secara total tinggi, tapi jika produktivitasnya rendah menandakan bahwa penerapan teknologi dan pola produksi modern tidak terlalu bermanfaat. Karena untuk mendapatkan output lebih banyak juga bisa hanya dengan menambah iput, misalnya meningkatkan jumlah pekerja/petani atau/ dan menambah luas lahan, tanpa harus menjalankan revolusi hijau.

Sumber :

Dr. Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia

Penerbit Ghalia Indonesia (April 2009)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 6, 2013 in Perekonomian Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: