RSS

PERTANIAN SUMBER UTAMA KEMISKINAN ? KEBIJAKAN ANTI KEMISKINAN?

06 Apr

PERTANIAN SUMBER UTAMA KEMISKINAN ? KEBIJAKAN ANTI KEMISKINAN?

 1. Pertanian sumber utama kemiskinan?

Kemiskinan adalah suatu fenomena atau proses multidimensi, yang artinya kemiskinan disebabkan oleh banyak faktor (World Bank, 2000). Namun, di Indonesia kemiskinan merupakan suatu fenomena yang erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi di perdesaan pada umumnya dan di sektor pertanian pada khususnya. Oleh sebab itu, fenomena kemiskinan di Indonesia tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa memahami fenomena kemiskinan di perdesaan atau sektor pertanian.

Penduduk di sektor pertanian pada umumnya selalu lebih miskin dibandingkan penduduk yang sumber utama pendapatannya dari sektor-sektor  lainnya, terutama industri manufaktur, keuangan, dan perdagangan; walaupun pendapatan bervariasi menurut subsektor atau kelompok usaha di masing-masing sektor tersebut.

Kenapa lebih banyak kemiskinan di pertanian daripada di sektor-sektor lainnya? Jawabannya antara lain :

a)      Distibusi lahan yang timpang

b)      Pendidikan petani dan pekerja yang rendah

c)      Sulitnya mendapatkan modal

d)     Nilai tukar petani yang terus menurun

Hal ini diperburuk oleh semakin banyaknya areal pertanian yang berganti fungsi  ke kegiatan-kegiatan nonperertanian. Seperti yang dijelaskan oleh Tjondronegoro (2006) “Tanah sebagai tumpuan hidup petani kian berkurang, bukan karena penduduk bertambah, tetapi karena pemusatan kepemilikan tanah oleh pemodal besar yang hidup di perkotaan. Itu beberapa penyebab utama mengapa akses kepada tanah dan air serta sumber daya alam kian sulit bagi petani dan nelayan”.

Rasanya mustahil meraih produksi berlimpah ketika tanah yang akan ditanami semakin sempit. Sempitnya lahan garapan tidak lepas dari keterdesakan petani atas laju pembangunan. Di daerah perkotaan, hampir tidak ada petani yang mempunyai tanah lebih dari 1 hektar (Sulistyawaty)

Sebagai gambaran, berdasarkan data BPS, pertumbuhan produksi pada tahun 2003, 2005, dan 2006 masing-masing 1,26%, 0,12%, dan 0,46%. Hasil penelitian dari Fuglie (2004) yang dikuutip oleh Pakpahan (2007) juga memberikan gambaran yang sama yang menunjukan produktivitas total (TFP) menurun dari 2,6% selama periode 1968-1922 menjadi -0,1% selama periode 1993-2000, sedangkan pertumbuhan produksi padi per populasi menurun dari rata-rata 3,7% per tahun, menjadi -0,3% per tahun untuk tiap periode tersebut.

2. Kebijakan anti-kemiskinan?

Kebijakan anti kemiskinan dan distribusi pendapatan mulai muncul sebagai salah satu kebijakan yang sangat penting dari lembga-lembaga dunia, seperti Bank Dunia, ADB, UNDP, ILO, dan lain-lain. Pada tahun 1970, pada saat komite dari PBB untuk Perncanaan Pembangunan menyiapkan suatu deklarasi untuk Dekade pembangunan Kedua dari PBB, mendeklarasikan bahwa penurunan kemiskinan lewat percepatan proses pembangunan, penyempurnaan distribusi pendapatan, dan perubahan-perubahan sosial lainnya (kesempatan kerja, pendidikan, kesehatan, dan perumahan) sebagai tujuan terpenting dari suatu strategi pembangunan internasional yang tepat.

Baru-baru ini PBB mencanagkan Tujuan Pembangunan Abad Milenium “Milenium Development Goals” yang harus dicapai 191 negara anggotanya pada tahun 2015. Ada 8 target yang harus dicapai yang salah satunya focus langsung terhadap permasalahan keiskinan. Kedelapan target tersebut adalah sebagai berikut :

1)      Meniadakan kemiskinan dan kelaparan ekstrem

2)      Mencapai pendididkan dasar secara universal

3)      Meningkatkan kesetaraan jender dan memberdayakan wanita

4)      Mengurangi tingkat kematian anak

5)      Memperbaiki kesehatan Ibu

6)      Mengurangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit-penyakit lainnya

7)      Menjamin kelestarian lingkungan hidup

8)      Membentuk sebuah kerjasama global untuk pembangunan

Untuk mendukung strategi yang tepat dalam memerangi kemiskinan, diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan perantaranya dapat dibagi menurut waktu, yakni jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian, usaha kecil, dan ekonomi perdesaan. Pembangunan transportasi, komunikasi, energi dan keuangan, peningkatan keikutsertaan masyarakat sepenuhnya dalam pembangunan, dan proteksi sosial juga merupakan intervensi jangka pendek yang sangat penting.

Sedangkan intervensi jangka menengah dan panjang yang penting adalah :

1)      Pembangunan/penguatan sektor swasta

2)      Kerja sama regional

3)      Manajemen pengeluaran pemerintah (APBN) dan administrasi

4)      Desentralisasi

5)      Pendidikan dan kesehatan

6)      Penyediaan air bersih dan pembangunan perkotaan

7)      Pembagian tanah pertanian yang merata

Sumber :

Dr. Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia

Penerbit Ghalia Indonesia (April 2009)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 6, 2013 in Perekonomian Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: