RSS

KETAHANAN PANGAN

06 Apr

KETAHANAN PANGAN

A. Pentingnya Ketahanan Pangan

Keberhasilan pembangunan di sektor pertanian di suatu negara  harus terceminkan oleh kemampuan negara tersebut dalam swasembada pangan atau paling  tidak ketahanan pangan.

Di Indonesia, ketahanan pangan merupakan slah satu topik yang sangat penting, bukan saja hanya dilihat dari nilai-nilai ekonomi dan sosial, tetapi masalah ini mengandung konsekuensi politik yang sangat besar.

Ketahanan pangan sering digunakan sebagai alat politik oleh seorang (calon) presiden untuk mendapatkan dukungan dari rakyatnya. Ketahanan pangan bertambah penting lagi terutama karena saat ini Indonesia merupakan salah satu anggota  dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Artinya, disatu pihak pemerintah harus memerhatikan kelangsungan produksi pangan di dalam negeri demi menjaga ketahanan pangan, tetapi di pihak lain, Indonesia tidak bisa menghambat impor pangan dari luar.

Dalam kata lain, apabila Indonesia tidak siap, keanggotaan Indonesia didalam WTO bisa membuat Indonesia menjadi sangat tergantung pada impor pangan, dan ini dapat mengancam ketahanan pangan di dalam negeri.

B. Konsep Ketahanan Pangan

Konsep ketahanan pangan yang dianut Indonesia dapat dilihat dari UU No.7 tahun 1996 tentang pangan, Pasal 1 ayat 17  yang menyebutkan bahwa “Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga (RT) yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”.

UU ini sejalan dengan definisi ketahanan pangan menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB  (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1992, yakni akses setiap rumah tangga atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat.

C. Faktor-faktor Utama Penentu Ketahanan Pangan di Indonesia

1)      Lahan

Menurut berita di Kompas, lahan sawah di Indonesia hanya 4,5% dari total luasan daratan. Sekitar 8,5% merupakan tanah perkrbunan, 7,8% lahan kering, 13% dalam bentuk rumah, tegalan dan ilalang, serta 63% merupakan kawasan hutan.

Menurut BPS, pada tahun 2030 kebutuhan beras di Indonesia mencapai 59 juta ton. Karena luas tanam padi pada tahun 2007 hanya sekitar 11,6, maka untuk mendukung kebutuhan beras tersebut diperlukan tambahan luas tanam baru 11,8 juta ha.

Keterbatasan lahan pertanian, khususnya untuk komoditas-komoditas pangan memang sudah merupakan salah satu persoalan serius dalam kaitannya dengan ketahanan pangan di Indonesia selama ini.

2)      Infrastruktur

Irigasi (termasuk waduk dalam sumber air) merupakan bagian terpenting dari infrastruktur pertanian. Ketersediaan jaringan irigasi yang baik, dalam pengertian tidak hanya kuantitas tetapi juga kualitas, dapat meningkatkan volume produksi dan kualitas komoditas pertanian, terutama tanaman pangan, secara signifikan.

3)      Teknologi dan Sumber Daya Manusia

Teknologi dan Sumber Daya Manusia (SDM), bukan hanya jumlah tetapi juga kualitas, sangat menentukan keberhasilan Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan. Bahkan dapat dipastikan bahwa pemakaian teknologi dan input-input modern tidak akan menghasilkan output yang optimal apabila kualitas petani dalam arti pengetahuan atau wawasannya mengenai teknologi pertanian, pemasaran, standar kualitas, dan lain-lain rendah.

Lagipula, teknologi dan SDM adalah dua faktor produksi yang sifatnya komplementer dan ini berlaku di semua sektor, termasuk pertanian.

4)      Energi

Energi sangat penting untuk kegiatan pertanian lewat dua jalur, yakni langsung dan tidak langsung. Jalur langsung adalah energi seperti listrik atau bahan bakar minyak, yang digunakan oleh petani dalam kegiatan bertaninya, misalnya dalam menggunakan traktor. Sedangkan Jalur tidak langsung adalah energi yang digunakan oleh pabrik pupuk dan pabrik yang membuat input-input lainnya serta alat-alat transportasi dan komunikasi.

5)      Modal

Penyebab lainnya yang membuat rapuhnya ketahanan pangan di Indonesia adalah keterbtasan dana. Diantara sektor-sektor ekonomi, pertanian yang selalu paling sedikit mendapatkan kredit dari perbankan (dan juga dana investasi) di Indonesia. Bahkan kekurangan modal juga menjadi penyebab banyak petani tidak mempunyai mesin giling sendiri.

6)      Cuaca

Tidak diragukan bahwa  pemanasan global turut berperan dalam menyebabkan krisis pangan, termasuk di Indonesia, karena pemanasan global menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau yang makin kacau. Pola tanam dan estimasi produksi pertanian serta persediaan stok pangan menjadi sulit diprediksi secara baik (Arifin, 2008).

Pertanian, terutama pertanian pangan, merupakan sektor yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim, khususnya yang menyebabkan musim kering berkepanjangan, mengingat pertanian pangan di Indonesia masih sangat mengandalkan pada pertanian sawah yang berarti sangat memerlukan air yang sangat tidak sedikit (Samhadi, 2007).

Sumber :

Dr. Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia

Penerbit Ghalia Indonesia (April 2009)

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 6, 2013 in Perekonomian Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: